Yayasan Sarana Wana Jaya

AKSES PANGAN GRATIS: POHON BUAH DI JALAN PROTOKOL

DARI REDAKSI

Menanam pohon di tepi jalan sangat bermanfaat sebab kondisi jalan yang dipenuhi oleh gas polutan yang dikeluarkan oleh kendaraan yang lalu lalang dapat diserap oleh pepohonan. Pohon juga dapat menyaring debu polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan dan mengurangi kebisingan yang ditimbulkan oleh suara kendaraan. Pohon dapat menghasilkan oksigen di siang hari yang akan dihirup untuk bernapas terutama oleh para pejalan kaki dan pengendara motor, serta orang2 yang sedang berteduh dari terik matahari. Pohon tinggi yang rapi berjajar di kiri kanan jalan juga menambah estetika lingkungan jalan sehingga menjadi lebih indah, karena keindahan tajuknya, daunnya, bunganya maupun buahnya.

Langkah menanam pohon buah-buahan mungkin dianggap sepele, tetapi saat pohon itu sudah berbuah masyarakat umum akan terpikat dan berterimakasih. Selain menambah indahnya pemandangan jalanan protokol juga terbuka akses untuk memperoleh pangan gratis berupa buah-buahan, sayuran atau bumbu dari tanaman penghijauan terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

AKSES PANGAN GRATIS: POHON BUAH DI JALAN PROTOKOL

Di sepanjang jalan Sutoyo Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur ditanami jenis pohon jambu dersono agar masyarakat mempunyai rasa memiliki dan rasa tanggungjawab terhadap tanaman penghijauan, bersedia memelihara dan menjaga keselamatan tanaman tersebut. Secara bertahap, jenis pohon penghijauan di jalan2 protokol akan diremajakan menggunakan tanaman buah2 an dengan harapan kedepannya warga masyarakat tidak hanya menikmati udara bersih saja namun dapat pula menikmati buahnya secara gratis.

Pohon nangka mini yang ditanam di jalan-jalan protokol kota Bandar Lampung sudah ada sejak tahun 2011-2012, jumlah pohonnya sekitar 1000 batang. Pohon nangka mini termasuk genjah, buahnya lebat, umur 1,5 tahun setelah ditanam sudah mulai berbuah. Ukuran buahnya dan pohonnya juga relatif lebih kecil daripada pohon nangka umumnya. Buah nangka menjadi pemandangan menarik sebab menjadi penghias taman2 di median jalan dan masyarakat dapat memetik buahnya secara gratis. Buah yang muda dapat disayur dan buah yang tua dapat dimakan sebagai buah. Pemerintah Kota Bandar Lampung mengizinkan masyarakat mengambil buahnya dengan catatan tidak merusak pohonnya.

Bukan Dinas Pertanaman saja yang menanam, termasuk BPLH, dan Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung. Dinas tersebut termasuk Dinas Kebersihan Kota Bandar Lampung menyampaikan bahwa masyarakat dapat memetik buahnya asalkan tidak merusak pohonnya.

Di sisi jalan di kota Australia juga dijadikan kebun buah dan sayuran untuk umum. Awalnya penanaman pohon jeruk nipis diinisiasi oleh penduduk agar setiap orang lewat bisa memetik buahnya kelak.  Inisiatif bernama Urban Food Street itu dimulai sejak tahun 2009 di sejumlah lokasi hijau sepanjang pinggiran jalan di Buderim Kota Sunshine Coast. Bermula dari satu pohon jeruk nipis itu, lalu berkembang ke 11 jalan di kawasan Buderim hingga dipenuhi pohon buah, sayuran, serta tanaman bumbu. Hasilnya luar biasa menjadi inspirasi bagi pemanfaatan lahan hijau di kota-kota lainnya di Australia. Tampilan kawasan hijau dengan pohon buah dan sayuran itu telah mengundang minat berbagai pihak. Meskipun tidak semua rumah di 11 jalan di daerah itu ikut menanami jalur hijau di sekitar rumahnya, namun mereka bisa turut serta menikmati hasilnya. Inisiatif yang cukup sederhana, namun skalanya meningkat menjadi semi komersial. Tahun 2015 misalnya, daerah itu menghasilkan 900 kg pisang serta 300 buah kubis. Urban Food Street dirancang sebagai kawasan perumahan dengan prinsip permakultur, dan terjadi kohesi positif di antara sesama penduduk diwilayah tersebut.

Hal menarik di kota Nanning di China adalah pemandangan hijau pohon buah2 an yang ditanam di sepanjang sisi jalan kota. Puluhan ribu pohon buah-buahan dari 13 varietas menghiasi jalanan dan gang kota Nanning. Ada berbagai jenis buah yang tumbuh di pinggiran jalan kota Nanning mulai dari buah leci, kelengkeng, mangga, jambu mawar, buah persik, belimbing, kacang almond dan nangka. Daya tariknya semakin mempesona saat memasuki musim buah, dimana ribuan pohon tersebut mulai berbuah dan mengubahnya dari Kota Hijau menjadi Kota Buah. Sebagai kota yang mengharmoniskan alam dan manusia, dapat menjadi destinasi wisata yang unik dan menggoda karena pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang indah, mencicipi buah-buahan segar, dan berbelanja oleh-oleh yang khas. Pohon-pohon buah tersebut tidak hanya mempercantik kota, tetapi juga memberikan manfaat ekologis, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat.

Setelah Gerakan Menanam 10 Ribu Pohon Kelapa (GEMPALA) sukses, Walikota Bengkulu menyiapkan gebrakan baru yakni gerakan menanam pohon buah sebagai salah satu inovasi untuk membantu memenuhi ketahanan pangan lokal. Terinspirasi dari kota Nanning di China, gerakan menanam pohon buah2 an ini bertujuan agar masyarakat memanfaatkan lahan tidur, perkarangan, kebun sekolah, ruang terbuka hijau, dan lahan perkantoran. dengan menanam pohon buah-buahan dan tanaman lainnya untuk mendukung ketahanan pangan lokal.

Upaya menciptakan ruang kota yang lebih hijau dan berkelanjutan, berbagai kota di dunia mulai mengadopsi pendekatan inovatif dengan menanam tanaman buah di sepanjang jalan perkotaan. Tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika dan penghijauan, tanaman buah memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang signifikan. Pendekatan ini mendukung visi kota hijau (green city) yang memadukan aspek keindahan, ketahanan pangan, dan pelestarian lingkungan. Buah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, baik untuk konsumsi langsung maupun untuk dijual kembali. Hal ini mendorong terciptanya ketahanan pangan lokal dan potensi pemberdayaan ekonomi komunitas urban, terutama masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di sekitar lokasi penanaman. Beberapa kota bahkan telah mengembangkan konsep “urban edible landscape”. Untuk itu diperlukan (1)  legalitas dari pemerintah setempat, (2)  kebersihan jalan disaat musim berbuah sebab buah yang jatuh ke jalan bisa menimbulkan sampah organik yang mengganggu, (3) diperlukan sistem pemeliharaan terpadu yang melibatkan dinas pertamanan, komunitas lokal, dan dukungan teknologi untuk pemeliharaan tanaman dan pemanenan buahnya, (4) kesadaran masyarakat bahwa boleh mengambil buahnya dengan catatan tidak merusak pohonnya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jenis tanaman buah yang cocok ditanam di jalan perkotaan harus memiliki akar yang tidak merusak infrastruktur, serta memiliki kanopi yang memberikan naungan tanpa menghalangi lalu lintas. Studi dari Institut Pertanian Bogor (2023) menyarankan pohon buah seperti sawo, jambu air, dan kelengkeng sebagai jenis yang paling adaptif terhadap kondisi mikroklimat perkotaan Indonesia. Studi lain menyarankan pohon mangga, jambu biji, jeruk manis, rambutan, dan belimbing. Dengan perencanaan yang matang, pohon buah di jalan protokol kota dapat menjadi solusi multifungsi untuk lingkungan dan ketahanan pangan, serta mempererat interaksi sosial di masyarakat.

Exit mobile version