INFO PUSKASHUT KONFLIK EKOLOGI MANGROVE VERSUS TAMBAK

DARI REDAKSI

Sebagai negara dengan garis pantai tropis terpanjang di dunia, Indonesia adalah pemilik hutan mangrove terluas di dunia. Ekosistem mangrove berperan sebagai penahan abrasi, benteng pertahanan dari badai dan banjir, serta tempat berkembang biak ikan dan udang alami. Namun posisi tersebut harus dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh berkembangnya industri budidaya tambak udang.
Sementara itu konsumen dari negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa sudah mulai sadar, akan produk makanan organik. Konsumen membeli dan mengkonsumsi makanan organik yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan mendorong pengelolaan perikanan yang lebih baik. Produk dengan label organik akan dihargai lebih tinggi dibandingkan tanpa label organik. Dengan demikian praktik budidaya udang di kawasan pesisir sejatinya harus dilakukan tidak hanya mengejar produktivitas tinggi tetapi juga harus berkelanjutan.

KONFLIK EKOLOGI MANGROVE VERSUS TAMBAK

Permen KP No.75/PERMEN-KP/2016 tentang pedoman umum pembesaran udang windu dan vaname, serta Kepmen KP No.28/MEN/2004, mencakup kebijakan peningkatan ekspor udang melalui pengembangan budidaya vaname berbasis kawasan yang ramah lingkungan. Terkait kebijakan tersebut udang berkembang menjadi industri besar, volume ekspor udang dari tahun 2020 hingga 2024 meningkat sebesar 250%.

Nilai ekonomi yang signifikan tersebut telah mendorong konversi mangrove. Budidaya tambak berkonflik dengan kelestarian hutan mangrove karena dilakukan dengan cara konversi mangrove. Tambak udang seluas 600.000 hektar (2020) ditargetkan meningkat mencapai 2,96 juta hektar (Forest Digest, Juli 2020). Menurut data tahun 2018 dari KemenLHK, laju tahunan kerusakan hutan mangrove mencapai 58.000 hektar, laju kerusakan tercepat di dunia. Hilangnya hutan mangrove bukan hanya mengancam ekosistem, tetapi juga kehidupan masyarakat pesisir. Hilangnya daya dukung ekologi dirasakan oleh masyarakat pesisir terutama bagi nelayan, pencari nafkah langsung dari alam, dan terganggunya keberlanjutan budidaya kedepannya.

Konversi mangrove menjadi tambak seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan, pencemaran dari limbah tambak, dan berkurangnya keanekaragaman hayati. Dalam beberapa kasus pengelolaan tambak udang secara intensif di Indonesia, meskipun menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek, namun rawan terhadap kerusakan alam yang ujung-ujungnya mengarah kepada kehancuran ekonomi. Dalam siklus pertama, tambak udang monokultur intensif masih menguntungkan, namun dalam beberapa rotasi berikutnya telah banyak bukti tambak udang intensif mengalami kehancuran yang menimbulkan kerusakan dan kolapsnya lingkungan wilayah pesisir. Tambak udang intensif menebar bibit udang yang sangat banyak/padat, dan menggunakan pakan pabrikan secara intensif sehingga dalam beberapa rotasi terjadi pencemaran air dan tanah akibat tumpukan limbah cair dari sisa pakan dan kotoran udang  yang menyebabkan kegagalan produksi akibat berkembangnya penyakit dan kematian udang. Sementara itu dampak sosial ekonomi berupa kerugian nelayan dan petani, memicu berkembangnya konflik sosial dan ancaman kebangkrutan akibat gagal panen.

Hilangnya hutan mangrove, hilangnya tempat berpijah biota laut, ancaman abrasi pantai dan hilangnya garis pantai telah banyak terbukti dari praktik intensifikasi tambak udang yang kemudian ditinggalkan. Tambak-tambak udang yang ditinggalkan, menjadi rawan terhadap abrasi dan memerlukan biaya besar untuk pemulihan ekosistemnya. Belum lagi jika diperhitungkan dengan kehilangan wilayah hidup dari masyarakat lokal yang berusaha secara turun-temurun melalui pemanfaatan potensi-potensi tradisional dari hutan mangrove. Dengan demikian, nilai ekonomi tambak udang intensif dalam jangka panjang perlu dipertanyakan.

Solusi yang ditawarkan selama bertahun-tahun terhadap industri budidaya tambak adalah silvofishery yang mengintegrasikan mangrove ke dalam tambak, yaitu menanam mangrove dalam usaha budidaya tambak udang untuk memulihkan hutan sekaligus mendukung keberlanjutan usaha budidaya udang tersebut. Pendekatan ini menjaga fungsi ekologis mangrove sebagai benteng pesisir, sekaligus memberikan pakan alami dan kualitas air yang lebih baik bagi biota tambak. Tambak udang tradisional menyediakan penghasilan cepat dan meningkatkan nilai ekonomi lahan bagi masyarakat setempat hingga memperbaiki mata pencaharian masyarakat setempat.

Riset dan uji coba di Berau Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa penanaman mangrove yang terlalu banyak dan rapat di area tambak akan mengurangi hasil panen udang. Hal ini karena (1) seresah daun melepaskan tanin dan senyawa lain yang dapat menurunkan kualitas air di tambak, (2) proses pembusukan daun juga menyerap oksigen terlarut yang perannya sangat penting dalam budidaya udang, (3) kanopi yang lebat menaungi tambak akan mengurangi cahaya matahari sehingga menghambat pertumbuhan plankton dan alga sebagai sumber pakan alami udang. Keberadaan mangrove dengan kepadatan rendah, kurang dari 1.000 pohon per hektare, justru meningkatkan produksi udang. Pohon yang jarang memberi naungan dan tambahan nutrisi tanpa membebani sistem tambak sehingga potensi panen budidaya tambak kembali meningkat.

Jadi cara paling efektif untuk meningkatkan produktivitas udang adalah menumbuhkan tanaman mangrove yang sehat dan berkepadatan tinggi di sempadan tambak yang berfungsi sebagai sabuk hijau. Sebaliknya, makin sedikit mangrove di sempadan, makin rendah produktivitas tambak. Sabuk hijau mangrove ini bekerja sebagai penyangga alami multifungsi menyaring polutan, menahan nutrisi berlebih, hingga menjaga air tetap bersih sebelum masuk ke tambak udang. Sistem perakaran mangrove yang kompleks memperkuat tanggul tambak serta meredam riak air sehingga mencegah erosi, sekaligus menjadi habitat bagi udang, ikan, dan kepiting. Hal ini meningkatkan kesehatan ekosistem pesisir secara keseluruhan.

Dengan demikian (1) pemulihan mangrove di tambak aktif sebaiknya memprioritaskan penanaman di luar area tambak, bukan di dalam tambak, (2) memperkecil ukuran tambak yang dikelilingi mangrove sehat agar dapat menghasilkan panen yang setara, bahkan lebih tinggi. Intinya dengan menempatkan mangrove di lokasi yang tepat, maka pemulihan hutan mangrove menghasilkan panen udang yang lebih baik, ekosistem yang lebih sehat, dan masyarakat yang lebih tangguh, sehingga petambak tidak harus memilih antara mata pencaharian dan konservasi.

Leave a Reply