
DARI REDAKSI
Hutan tropis Indonesia merupakan sumber daya genetik yang sangat kaya sehingga potensinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan obat-obatan, biofuel, produk industri baru, dll melalui pemanfaatan bioteknologi modern. Terkait hal tersebut, diperlukan kebijakan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan sumber daya genetik yang terdapat dalam kawasan hutan Indonesia agar tidak dimanfaatkan oleh negara lain.
Pengetahuan tradional masyarakat lokal merupakan bagian awal yang penting dalam proses pengembangan bioprospecting sampai ditemukan senyawa kimia baru dari produk komersialnya. Sudah saatnya melakukan transformasi menuju komersialisasi biodiversity melalui “bioprospecting” dengan memanfaatkan bioteknologi modern, untuk mengurangi pemanfaatan hutan yang bersifat ekstratif berupa kayu dan bukan kayu secara langsung.
POHON DRYOBALANOPS AROMATICA NILAI HISTORISNYA TINGGI
Dalam Al Qur’an surat Al-Insan ayat ke-5, Allah menjanjikan bahwa orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas berisi minuman yang bercampur air kafur.
Para ulama menafsirkan bahwa air kafur merujuk pada air dari tanaman kamper atau kapur barus, yaitu tanaman dengan nama Latin Dryobalanops aromatica.
Itu bukan tanaman asli Arab sehingga para pedagang Arab pergi ke pusat tumbuhan kamper di bagian timur. Jalinan perdagangan menyebabkan lambat laun pedagang Arab mengetahui bahwa pusat tanaman kamper berada di Indonesia, tepatnya di Aceh dan Sumatera Utara. Secara spesifik, lokasinya berada di Fansur atau Barus yang dikenal dengan kafur nya, salah satu komoditasnya yang mendunia sejak zaman Mesir Kuno.
Pada tahun 902 pedagang Arab, Ibn Al-Faqih sudah menyebut Fansur sebagai wilayah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Barus adalah pelabuhan penting di Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah, di pantai barat Sumatera Utara yang merupakan lokasi untuk mendapatkan komoditas perdagangan, salah satunya adalah kapur barus bermutu tinggi yang mengalahkan kapur barus asal Malaya dan Kalimantan. Kapur barus tersebut kemudian dijual lagi dengan harga tinggi di pasar internasional.. Pedagang Arab melakukan perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon (Sri Lanka), lalu tiba di Barus Pantai Barat Sumatra.
Manfaat & Kegunaan Tradisional
Pohon kapur (Dryobalanops aromatica) dapat menghasilkan air yang keluar saat batang pohonnya disadap, yang sering disebut “air kapur” atau “air kebajikan”. Air kapur dapat diminum secara langsung maupun dicampur dengan bahan lain sebagai ramuan obat. Secara tradisional air kapur telah lama digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan sakit perut. Aromanya yang wangi dan sifatnya yang menyejukkan membuat air kapur juga sering dimanfaatkan dalam berbagai produk kosmetik.
Pada tahun 1970-an penebang pohon kapur di Singkil dilakukan dengan cara mengamankan minyak yang keluar dari batang terlebih dahulu, kemudian mereka baru memotong-motong kayunya karena harga minyak dari tanaman kapur justru lebih tinggi dari pada harga kayunya. Saat batang pohon yang sudah tua disadap, air kapur keluar bersamaan minyak yang mengandung senyawa aktif borneol serta resin/getah yang kemudian mengeras menjadi kristal kamper alam (kapur barus).
Kapur barus banyak dimanfaatkan sebagai bahan farmasi, wewangian, maupun untuk keperluan istijmar dan antiseptik. Rasulullah SAW menggunakan bukhur yang terdiri dari kristal kapur barus untuk dibakar sebagai bahan istijmar. Minyak dan kristal kapur barus merupakan komoditas ekspor untuk keperluan kosmetik dan obat-obatan.
PERAN EKOLOGIS DAN KONSERVASI
Pohon kapur barus memainkan peran penting dalam konservasi ekosistem hutan hujan tropis, terutama dalam menjaga keberlanjutan siklus hidrologi dan kualitas sumber daya air. Dengan sistem perakaran yang kuat dan dalam, pohon ini berperan sebagai penyerap air tanah, memperkuat struktur tanah, dan mencegah erosi, sehingga turut menjaga kestabilan daerah aliran sungai (DAS).
Pohon kapur barus juga berkaitan erat dengan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Hutan Sumatera, terutama yang dihuni oleh pohon-pohon besar seperti kapur barus, berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang esensial. Dalam skema pengelolaan DAS, keberadaan pohon ini membantu meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta menjaga debit aliran sungai di musim kemarau.
Penelitian Pratiwi dan timnya juga telah membuktikan keunikan pohon kapur barus sebagai tanaman yang dapat digunakan untuk konservasi lingkungan. Tanah yang semula rusak bekas tambang dapat diperbaiki kualitasnya dengan tanaman pohon kapur barus (Pratiwi dkk, 2021).
HABITAT & KARAKTERISTIK TUMBUH
Di habitat aslinya, peneliti menemukan bahwa tanah miring berbatu yang terkena cahaya matahari dalam jumlah yang cukup menjadi tempat tumbuh biji dari pohon kapur barus. Oleh karena kemampuannya tumbuh di tanah yang miring disertai dengan akarnya yang tunggang menjadikan pohon ini potensial sebagai pencegah longsor.
Buahnya dapat terbang dibawa angin hingga berjarak 80-100 meter dari pohon induknya. Uniknya, buah ini memiliki sayap sehingga dapat tersebar dengan perantaraan udara untuk sampai di tanah tempat tumbuhnya kelak. Penelitian Itoh dari Universitas Kyoto menyebutkan bahwa tanaman ini dapat tumbuh di tanah yang pernah mengalami longsor (Itoh, 1995). Para peneliti mendeteksi bahwa hutan yang masih banyak memiliki pohon kapur barus saat ini justru ada Kabupaten Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah.
Ancaman Terhadap Populasi
Namun, sejak tahun 2022 para peneliti pohon kapur barus sudah menyadari bahwa hutan tersebut terancam keberadaannya karena berbagai faktor. Kayu kapur adalah salah satu primadona kayu perdagangan sehingga menjadi sasaran pemenuhan target tebangan di areal HPH. Di luar kawasan makin langka karena dikonversi menjadi kebun sawit, karet atau cokelat. Pamor kapur barus alam tenggelam bersama kemunculan kapur barus pabrikan yang biasa dijual di toko-toko swalayan modern yang merupakan senyawa kimia baru dari napthalene (C10H8). Pengambilan minyak kapur dari habitat alam seperti di Singkil saat ini juga sudah mulai ditinggalkan sebab populasi tanamannya semakin menipis dan harga minyaknya rendah.
KESIMPULAN
Pohon kapur barus merupakan salah satu spesies pohon tropis yang memiliki nilai ekologis, ekonomis, dan historis tinggi di Indonesia. Pengambilan air kapur, minyak dan getah/resin berlebihan dengan cara menebang pohon dapat merusak populasi, sehingga perlu upaya konservasi. Berdasarkan manfaat dari pohon kapur barus, selayaknya masyarakat di Indonesia memberikan perhatian khusus pada hutan di Sumatera. Kelestarian hutan beserta pohon kapur barus memiliki multi manfaat, yaitu untuk kesehatan manusia, menjaga ekosistem alam serta mencegah bencana.
